Rabu, 31 Oktober 2012

Kesan Lain Saat Sosialisasi REDD+ di Buol – Sulawesi Tengah

Kesan Lain Saat Sosialisasi REDD+ di Buol – Sulawesi Tengah


Setelah disibukan dengan beberapa pekerjaan di dunia nyata, baru kini dapat berselancar kembali di dunia maya untuk menyapa para sobat blogger yang baik. Akhir-akhir ini, saya melaksanakan tugas di luar kota dalam rangka sosialisasi awal dan pengumpulan data guna penetapan kabupaten prioritas lokasi demonstration activities REDD+. Karena ini, lebih dari satu minggu saya tidak meng-update postingan blog.
Kegiatan sosialisasi dan pengumpulan data merupakan salah satu rangkaian dari program penyiapan implementasi REDD+ di Provinsi Sulawesi Tengah, untuk memilih lima kabupaten sebagai lokasi pilot. Kegiatan ini diantaranya dilakukan di Kabupaten Buol, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi tengah yang terletak kurang lebih 806 km dari kota Palu.
REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation plus) merupakan mekanisme pemberian insentif dari negara maju ke negara berkembang apabila negara berkembang mampu menurunkan emisi gas rumah kaca (karbon). Sosialisasi tentang mekanisme REDD+ disambut baik oleh pemerintah Kabupaten Buol. Melalui surat resmi, Bupati Buol menyatakan berminat untuk menjadi kabupaten pilot REDD+ di Provinsi Sulawesi Tengah.
Disamping kesan positif atas sambutan hangat pemerintah Kabupaten Buol sehingga pelaksanaan sosialisasi dan pengambilan data terlaksana dengan lancar, kesan lain adalah seperti halnya setiap kali saya mendapat tugas luar ke kabupaten, yaitu kesan atas pemandangan di sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, tulisan ini tidak membicarakan tentang materi sosialisasi ataupun skema REDD+ yang agak njelimet, melainkan tulisan tentang ungkapan pengalaman dan kesan saya di sepanjang perjalanan pergi dan pulang antara Kota Palu dengan Kabupaten Buol.
Untuk menuju Kabupaten Buol, sebenarnya dapat ditempuh melalui transportasi udara, dengan pesawat seperti type Cassa. Namun, saya bersama anggota tim menempuh perjalanan lewat darat. Disamping pertimbangan yang agak konyol karena takut naik pesawat berukuran kecil, juga karena pengen lihat pemandangan sekitar perjalanan. Alasan lain dari salah satu anggota tim, karena ingin mampir silaturrahmi ke rumah mertuanya yang ada di Kabupaten Tolitoli, salah satu kabupaten yang dilalui dalam perjalanan dan terletak sebelum Kabupaten Buol.
Perjalanan antara Kota Palu dengan Kabupaten Buol kurang lebih memakan waktu lima belas jam. Dengan kondisi jalan tidak seperti jalan Pantura  di Jawa yang luas dan lurus, perjalanan menuju Kabupaten Buol ditempuh dengan melewati pinggiran pantai dan perbukitan sehingga lebih banyak jalan yang berkelak-kelok. Orang yang baru datang ke Sulawesi Tengah, biasanya akan kaget atau bahkan mabuk perjalanan saat mendapati jalan yang berkelak-kelok seperti ular. Saat pergi pun, saya sempat masuk angin karena sebelumnya saya dalam kondisi kurang fit. Tapi nggak lama, setelah istirahat di salah satu warung untuk minum kopi, masuk angin hilang dan perjalanan dilanjutkan kembali.
Kondisi jalan berkelak-kelok karena banyak melewati pinggiran pantai dan perbukitan bahkan pegunungan menjadi tidak terasa, karena pemandangan di sekitar perjalanan sangat indah. Pemandangan indah yang banyak dijumpai diantaranya adalah hutan pantai dengan tumbuhan paling umum adalah mangrove, yang dapat mentolelir air asin dan tanah bergaram. Hutan pantai menjadi habitat bagi berbagai jenis serangga, hewan dan tempat bersarang berbagai burung. Semak rerumputan dan tanaman merambat pantai memiliki akar serabut yang dapat menahan pasir pantai sehingga terlindung dari erosi oleh ombak dan arus air laut.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya kami mengagumi keindahan alam. Sopir yang mengendarai mobil yang kami sewa, berkali-kali mengatakan “mestinya danau yang indah, laut yang indah, pantai yang indah, hutan yang indah dan alam lainnya yang indah ini dikelola, agar banyak dikunjungi wisatawan  dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal”.
Untuk urusan makan atau sekedar minum kopi, pada perjalanan menuju Kabupaten Buol banyak dijumpai warung-warung makan di pinggir pantai yang menyediakan ikan bakar segar dengan harga yang murah. Foto di bawah ini, merupakan salah satu warung makan ikan bakar di pinggir pantai Pesik, Tolitoli, yang sempat saya potret dari sisi belakang.
Sulawesi Tengah memang benar-benar kaya akan sumberdaya laut. Saat singgah di rumah mertua salah satu anggota tim, di Kota Tolitoli, kami dan tuan rumah bersama-sama bakar ikan. Di sini kami makan ikan sepuas-puasnya, teman-teman yang terbiasa makan ikan sampai bisa menghabiskan dua puluh ekor, yang dimakan tanpa nasi.
Kesan lainnya adalah beberapa warung di perjalanan menjual buah durian dengan harga yang cukup murah. Kebetulan saat kami ke sana bertepatan dengan musim durian. Dua kali kami singgah di warung di pinggir jalan untuk makan durian. Karena kebanyakan makan durian, seorang teman merasakan tegang di lehernya. Durian memang enak, kalo saja tidak ingat bahaya kolesterol, sayapun pengennya makan terus. “mumpung murah, hehehe…”.
Kabupaten Buol merupakan daerah berkembang, dengan wilayah membentang dari arah Barat ke Timur dan melebar dari arah Utara ke Selatan. Dilihat dari posisinya, Kabupaten Buol terletak di bagian paling utara Sulawesi yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan Gorontalo dengan Sulawesi Tengah. Dilihat dari posisinya di permukaan bumi, wilayah Kabupaten Buol secara umum terletak di kawasan hutan dan lembah pegunungan serta kawasan lainnya terletak pada pesisir pantai yang sebagian terletak di perairan Laut Sulawesi.
Di Kota Buol, kami menginap di salah satu hotel yang terletak di pinggir pantai. Pada malam hari, setelah tidak ada suara televisi, deburan ombak air laut terdengar hingga di kamar hotel, seperti ada di dalam kapal laut. Terasa sangat alami sekali.
Ketika pulang, kami singgah kembali di Kabupaten Tolitoli. Pada dua belas tahun yang lalu, Buol masih merupakan bagian dari Kabupaten ini, yang saat itu masih bernama Kabupaten Buol Tolitoli. Setelah era reformasi, Tolitoli dan Buol masing-masing menjadi kabupaten. Di kota ini, kami memyempatkan belanja jajanan khas Tolitoli, diantaranya dampo (dodol yang terbuat dari durian), keripik dari buah nangka dan keripik dari buah sukun.
Perjalanan antara Kota Tolitoli menuju Kota Palu kurang lebih ditempuh selama sebelas jam. Sewaktu di perjalanan, di sekitar wilayah Tompe Kabupaten Donggala, kami berhenti beberapa saat untuk menyaksikan sunset, dan istirahat minum kopi.
Dengan segala kekayaan dan keindahan alamnya, bangsa Indonesia sepatutnya pandai bersyukur. Dengan mengaktualisasikan nilai-nilai syukur dalam segala praktek kehidupan, sehingga kekayaan dan keindahan alam ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lestari bagi kesejahteraan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Tengah.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kabupaten Buol Dan “Pak De Nakal Ala 8 Ball dan NGAPZ”

Habis sahur iseng nyari gambar-gambar sangar, gak sengaja nemu website Kabupaten Buol (http://www.buolkab.go.id), yang lagi kena deface. (kurang kerjaan bener yang lakuin itu) yang menarik bukan hasil deface-nya tapi lagu background yang mengiringi. Sumpah pengen ketawa saat mendengarnya, Lirik , kritis “blak-blakan” dikemas dengan bahasa lucu. :D . Kabupaten BuolLagu yang berdurasi kurangd ari 4menit ini diawali dengan kata-kata menggelitik. Judulnya Pak De Nakal.  oleh 8 Ball dan NGAPZ.
Setelah ubek-ubek youtube akhirnya nemu lagu ini dalam bentuk video.  Ok.. lansung saja simak lagunya! kalau butuh lirik jangan khawatir sudah saya tulis dibawah video.
Bapak anggota dewan orang orang pilihan
Jangan malas gitu waktu rapat enak enakan
Amanat yang kau emban itu tanggung jawab
Bukan malah enak tidur di kursi terlelap
Sibuk sama handphone, atau baca koran
Sidang lagi seru malah asik sendirian
Yang di depan pidato dibelakang malah dongo
Gak taunya bapak sableng nonton video porno
Rakyat kelaparan bapak malah cabul
Nanti disumpah mandul hati-hati terkabul
Gak usah mikir gedung segala mau dirombak
Kalo mental yang di dalam masih ada yang rusak
Makan gaji buta lukai rakyat jelata
Bisa melihat nyata namun mata hati buta
Jangan nuntut lebih nanti dibilang lebay
Sudah tua bisa mikir jangan kayak alay
Bapak dewan mewakili rakyat
Bukan tidur tiduran atau baca koran
Bapak dewan anda pegang amanat
Bukan malas malasan gunakanlah pikiran
Waktu nyalonin diri janjinya muluk muluk
Kayak ayam lapar lantang nian kukuruyuk
Rebutin kursi empuk buat bisa nyantai
Pas terbuai harta tugas pokok jadi lalai
Janji manis tergadai bapak dewan terlena
Kesampingkan kepentingan diluar sana
Karena sekarang jadi rahasia umum
Disela rapat ada yang tidur dan juga mesum
Mungkin si om pengen gitu-gituan
mangkanya bikin hal yang gak karu-karuan
tapi sayang doi emang lagi apes
pas ke gab kasian muka pucet langsung nervous
emang sih om kliatan cukup normal
tapi ko kaya orang ga punya moral
kalo begini apa dia tau pasal
jangan-jangan pancasila aja kaga hafal
Bapak dewan mewakili rakyat
Bukan tidur tiduran atau baca koran
Bapak dewan anda pegang amanat
Bukan malas malasan gunakanlah pikiran
Tiap hari nonton tv nonton berita
disana-sini lagi heboh banyak cerita
ada cerita artis ada cerita bisnis
semua ga pernah kelar gak sampe finish
eh timbul kasus nonton video porno
film yang bunyinya oh yes oh no..
nah yang ke gab sebut aja om funky
yang berdasi pasti dia laki-laki
koleksi nya mungkin lebih dari 2 giga
belom tau yang lain jangan-jangan tak terhingga
kalo kampanye umbar janji sambil berlaga
tau-tau nya bikin malu keluarga
lagu ini bukan untuk sok tau
tapi kebenaran itu yang itu kita mau
kalo ada salah kata jangan nyolot
rakyat teriak Bapa jangan belaga bolot
Bapak dewan mewakili rakyat
Bukan tidur tiduran atau baca koran
Bapak dewan anda pegang amanat
Bukan malas malasan gunakanlah pikiran
Semoga sang admin segera mengetahui kalau website pemkab Kabupaten Buol kena deface dan segera diperbaiki. Kabupaten Buol adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Buol. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.507 km² dan berpenduduk sebanyak 117.028 jiwa.

CITRA SATELIT KAB. BUOL SULTENG


Pembuktian bahwa karakteristik sedimen yang berasal dari sungai daerah tangkapan sebagai penyebab terjadinya pendangkalan Danau limboto akan dibuktikan secara saintifik. Walaupun diketahui bahwa danau ini memiliki saluran keluar, namun memiliki peran relative kecil dalam mengangkut sedimen keluar dari danau. Melihat urut-urut foto udara Danau Limboto yang dilakukan pada beberapa periode, terlihat perubahan bentuk danau yang menunjukan terjadinya laju pengendapat relative tinggi.

CITRA SATELIT KAB. BUOL SULTENG


Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah memiliki potensi bahan galian mineral logam yang relatif besar, selaku konsultan geoteknik, CV. HATCO telah mengidentifikasi biji besi dan pasir besi disamping potensi emas dan tembaga.

HIP/CCM Bantah Rebut Lahan Petani Buol

HIP Bantah Rebut Lahan Petani Buol

Ilustrasi -- ANTARA/Jafkhairi/wt
Perusahaan kelapa sawit PT Hardaya Inti Plantation (HIP) membantah telah merebut lahan dari petani di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

Lahan perkebunan kelapa sawit diperoleh HIP secara sah berdasar izin lokasi dan izin prinsip yang dikeluarkan oleh instansi berwenang tanpa berbenturan dengan masyarakat setempat.

Direktur PT HIP Bambang AS menjelaskan meski semua dokumen lahan memiliki keabsahan hukum namun pihaknya tetap akomodatif terhadap protes warga.

Perusahaan telah duduk bersama Pemda dan masyarakat setempat sejak 2000 dan telah dicapai kesepakatan bahwa Pemda akan memberikan ganti lahan. Oleh karena itu, jika masih ada yang kurang puas mestinya datang ke Pemda bukannya malah memprotes PT HIP.

Bambang menjelaskan bahwa pada Selasa (16/10), pihaknya telah menerima masyarakat yang tergabung dalam Forum Tani Buol (FTB) dan berhasil dicapai sejumlah kesepakatan.

Tapi disayangkan meski sudah tercapai kesepakatan, warga justru mendatangi sejumlah lembaga di Jakarta dan berkampanye lewat media massa, menyebarkan opini seolah-olah perusahaan telah bersikap jahat dengan mencaplok tanah warga.

Penjelasan Bambang AS ini disampaikan menyusul adanya protes dari beberapa orang yang tergabung dalam Forum Tani Buol yang menuding PT HIP telah menyerobot lahan warga, sehingga mereka datang ke Jakarta mengadukan permasalahan ini ke Walhi dan Komnas HAM.

Hal senada disampaikan Syarif Labboko, ketua Koperasi Plasma Fi Sabilillah, Buol yang juga merupakan tokoh petani Buol.

Ia menjelaskan masalah sengketa lahan warga dengan PT HIP telah diselesaikan secara musyawarah pada 2000 sehingga dirinya heran jika saat ini masih ada warga yang mengklaim tanahnya diserobot perusahaan.

Syarif menghimbau jika masih ada warga yang kurang puas mestinya membicarakannya dengan Pemda dan dengan koperasi plasma setempat, bukannya malah ke berbagai lembaga di Jakarta.

“Kalau mau menyelesaikan masalah mestinya duduk bersama dengan kita di Buol. Kalau berkoar-koar ke Jakarta pasti tidak akan menyelesaikan masalah karena ini  kan sebenarnya urusan Pemda,” katanya. (RO/OL-12)

Jatah "Dicuri", BBM Langka Di Buol

Jatah "Dicuri", BBM Langka Di Buols
Jakarta - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di kabupaten Buol, Sulawesi Tengah yang paling merasakan, pasalnya setiap hari jatah uang disuplai oleh Depo Pertamian di Lalos Kabupaten Toli-toli untuk warga tidak mencukup dan selalu ditemui antrian panjang kendaraan membeli BBM, seperti yang terlihat di SPBU di jalan Syarif Mansur, pusat Kota Buol.

Berdasarkan informasi yang dihimpun INILAH.COM, Kamis (24/05/12) di SPBU itu, ada yang unik, disamping antrian kendaraan, ternyata jerigen-jerigen yang juga ikut antri untuk diisi, padahal telah ada himbauan agar SPBU tidak lagi menerima pembeli jerigen. Akibatnya suplay untuk warga berkurang.

Sumber resmi INILAH.COM menyebutkan jika oknum masyarakat yang memiliki jerigen itu. Setelah membeli, ternyata ada oknum dari perusahaan kelapa sawit di Buol yang mengkoordinir. Mereka lah yang mengambil jerigen BBM itu ke rumah-rumah warga.

Jerigen bersubsidi ini lalui dibawah oknum dari perusahaan sawit untuk proses produksi yang akan dilakukan, termasuk BBM mesin potong di lokasi kebun sawit mereka.

Tokoh Masyarakat Buol, Rizal Min'un yang dihubungi INILAH.COM, Jumat (25/10/12) mengakui telah mengetahi persoalan itu. Perusahaan itu telah mengambil jatah BBM bersubsidi miliki masyarakat yang jauh lebih murah ketimbang harga BBM untuk Industri.

"Instansi berwenang harus segera menertibkan antrian jerigen itu karena .mengurangi jatah untuk masyarakat. Mereka membeli BBM bersubsudi," kata Gon, sapaan akrabnya. [rus]

Profil Kabupaten Buol


Wilayah Buol merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Lipunoto, secara geografis terletak di 0,35o- 1,20o LU dan antara120,12o- 122,09o BT. Daerah ini berbatasan dengan Laut sulawesi sekaligus berbatasn dengan Negara Philipina di utara, Kabupaten Toli-toli dan Kabupetn Parimo di selatan, Kabupetn gorontalo di Provinsi Gorontalo di timur, Kabupaten Tolitoli di barat. Luas wilayah daerah ini adalah 4.043, 57 Km2.
Secara administratif, daerah ini terbagi menjadi 11 Kecamatan, (+100 Desa?), dan 7 Kelurahan. Daerah ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor pertanian dengan hasil pertanian yang utama berupa bahan tanaman makanan yang meliputi padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang hijau, kedele untuk hasil perkebunan komoditi yang dihasilkan didaerah ini berupa kelapa dalam, cengkeh, kakao, jambu mete, lada, kopi robusta.
Pelabuhan Paleleh Buol
Pelabuhan Paleleh Buol
Dari komoditi perkebunan ini kelapa sawit menjadi komoditas unggulan, minyak goreng yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi dengan kandungan asam lemak yang rendah, perusahan kelapa sawit ini selain menyediakan lapangan usaha dengan menyerap tenaga kerja, pengolahan perkebunan kelapa sawit ini juga memberikan pemasukan bagi kas Kabupaten.
Selain dari pertanian, Kabupaten Boul jiga memiliki potensi pertambangan terdapat potensi tambang emas, bijih besi, batu bara, pasir kuarsa, dan gas.
Dari hasil pertanian dan perkebunan ini berdampak besar juga terhadap perdagangan. Perdagangan menjadi tumpuan mata pencaharian penduduk setelah pertanian. keberadaan infrastruktur berupa jalan darat yang memadai akan lebih memudahkan para pedagang untuk berinteraksi sehingga memperlancar baik arus barang maupun jasa, daerah ini juga telah memiliki Bandara Pogugol yang terletak di Boul, Tiga buah Pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Leok, Pelabuhan Paleleh dan Pelabuhan Lokodidi, serta terdapat berbagai sarana dan prasarana pendukung diantaranya sarana pembangkit tenaga listrik, air bersih, gas dan jaringan telekomunikasi.
sumber :  http://paisbuol.wordpress.com

Ada Tiang Listrik Di Bahu Jalan, Gubernur Berang!



 
Ada Tiang Listrik Di Bahu Jalan, Gubernur Berang!

BAHU Jalan yang ‘ditumbuhi’ tiang listrik ini sempat menelan korban jiwa hingga tewas, kata Bupati Buol Amran Batalipu. Olehnya, diharapkan pihak Kimpraswil Sulteng bertanggujawab dalam membangun jalan Negara yang diperkirakan senilai Rp17 miliar itu. FOTO: ANDONO WIBISONO/MS


PALU, MERCUSUAR - Pembangunan Jalan Negara sepanjang Sembilan Kilometer (KM) dari wilayah Bodi – Paleleh Kecamatan Paleleh Kabupaten Buol ternyata ada yang aneh. Di bahu jalan proyek itu terdapat tiang listrik yang sangat membahayakan pengguna jalan. Akibatnya, satu pengendara motor tewas!
Tak tanggung-tanggung, jumlah tiang listrik itu berjumlah 32 tiang. Yang masuk ke bahu jalan sebanyak delapan tiang. Rawannya jalan itu karena pembangunan jalannya sudah nampak mulus dan berkelok-kelok. Demikian investigasi langsung koran ini di lapangan (7/9) bersamaan dengan kunjungan Gubernur HB Paliudju dan Bupati Buol Amran Batalipu ke Paleleh meresmikan kantor cabang pembantu BPD Sulteng.
Tak dipindahkannya tiang listrik dari bahu jalan tersebut menunjukkan betapa lemahnya pengawasan baik yang dilakukan pihak ketiga (PT Jakarta Rencana Selaras) dengan pihak satuan kerja (Satker) Pembangunan Jalan Negara serta Kepala Dinas Kimpraswil Sulteng. Selain pengawasan, yang patut juga disorot yaitu perencanaan pembangunan jalan negara di instansi terkait provinsi. ‘’Harusnya kan dianggarkan dalam RAB. Karena PLN tidak ada dana. Bila tidak dianggarkan alasannya, maka perencanaan yang amburadul,’’ tandas Bupati Amran Batalipu ketika dimintai komentarnya. Ia juga sangat menyesalkan, akibat pembangunan jalan itu yang tidak terencana baik, warga tewas menabrak tiang listrik.
Ada beberapa pekerjaan pembangunan jalan di wilayahnya yang juga bersentuhan dengan keberadaan tiang listrik. Tapi, karena diplot anggaran untuk pemindahan tiang listrik ke pinggir jalan, maka hal itu dapat teratasi. ‘’Masalahnya, apakah ada kemauan untuk membangun lebih baik dan tidak membahayakan masyarakat. Anda bisa menilai sendiri,’’ aku Bupati yang PAD-nya naik hingga ratusan persen dalam tempo dua tahun kepemimpinannya.
Menurut sumber koran ini, ketika melintas di jalan tersebut, Gubernur HB Paliudju sempat berang melihat pembangunan jalan itu. ‘’Gubernur sempat marah-marah dengan kata-kata Nadoyo,’’ tutur sumber meyakinkan. Paliudju juga sempat menyaksikan rusaknya poros jalan Paleleh – kecamatan terujung Sulteng yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo.
Di sisi lain, proyek pembangunan Jalan Bodi – Paleleh ini juga papan proyeknya tidak memenuhi azas transparansi. Papan proyek yang sempat diabadikan koran ini tidak menyebut jumlah anggaran pembangunannya. Isi papan proyek hanya memuat panjang efektif dan panjang fungsional jalan, tanggal kontrak dan SPMK, waktu pelaksanaan, waktu pemeliharaan dan kontraktor pelaksana serta konsultan pengawas.
Sementara pihak pelaksana proyek, PT Bina Konstruksi Utama yang dikonfirmasi belum dapat dikonfirmasi. Data dari lpjk.org.com bahwa kontak teleponnya 0421 – 22xxx tidak diangkat kala dihubungi. Demikian pula dengan pihak konsultan pengawas PT Jakarta Rencana Selaras 021-7252xxx di Jakarta.

RUSAK PARAH
Parahnya jalan negara di wilayah Kabupaten Buol memang tergolong sangat parah kerusakannya. Tidak hanya tak beraspal. Tapi sebagian lubang dan longsor. Hal ini mengakibatkan biaya ekonomi tinggi. Seperti jalan Negara Desa Lakuan Buol, Desa Lakea 1, Desa Lakea 2, Desa Bukaan dan Desa Tuinan di Kecamatan Biau. Bahkan diselorohkan ‘’Dari Selamat Datang sampai Selamat Jalan seluruh Jalan Rusak Parah’’
Ha ini tidak mengada-ngada. Harian Kompas pernah melansir kerusakan jalan Negara di wilayah Sulawesi. Termasuk Sulteng (Kompas; 22 Desember 2008).
Di Sulawesi Tengah, di poros Buol-Parigi Moutong, fisik jalan sepanjang 40 kilometer tak hanya hancur, tetapi pada titik tertentu tertimbun longsoran material batu dan tanah setinggi 1 meter dari tebing kiri-kanan jalan.
Di Sulteng seluas 774 km jalan rusak.
Mantan Kepala Sub-Dinas Tata Ruang, Bina Program, dan Pengendalian, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Sulteng Yanmar Nainggolan seperti dikutip dari Kompas, mengatakan, anggaran dari APBD provinsi untuk pengadaan infrastruktur jalan hanya Rp 80 miliar-Rp 100 miliar per tahun.Untuk pemeliharaan jalan, dengan biaya minimal Rp 10 juta per kilometer, setiap tahun dibutuhkan dana hingga Rp 35 miliar. Menurut Yanmar, untuk peningkatan jalan, dibutuhkan biaya Rp 800 juta-Rp 1 miliar per km per tahun. Pembangunan jalan baru akan makan biaya Rp 2 miliar-Rp 2,5 miliar per km per tahun. Ia menunjuk contoh jalan Provinsi Sulteng panjangnya 2.037 km, tetapi anggaran pemeliharaannya hanya Rp 20 miliar-Rp 35 miliar.FAA/*
sumber :http://www.harianmercusuar.com